Senin, 03 Mei 2010

Biografi Tuan Guru Haji Muhammad Najmuddin Makmun

RIWAYAT SINGKAT
TUAN GURU HAJI MUHAMMAD NAJMUDDIN MAKMUN

Nama asli beliau adalah MA’ARIF, beliau lahir di kampung Karang Lebah Praya pada tahun 1920 Masehi. Ayahnya bernama TUAN GURU HAJI MAKMUN (wafat tahun 1947 M). Putra dari Abdul Wahid Bin Abdul Karim. Tuan Guru Makmun adalah salah seorang Mursyid Tarekat Qadhariyah wa Naqsabandiyah pada masanya ( wafat bulan Safar 1947 M). Silsilah Tarekat diterima langsung dari guru utamanya yaitu Tuan Guru Haji Muhammad Siddiq Karang Kelok Ampenan, dan Tuan Guru Makmun baru menyatakan dirinya sanggup sebagai guru tarekat setelah 40 kali diminta oleh gurunya untuk mengajarkan kepada orang lain. Pada kali pertama diminta, beliau merasa dirinya kurang pantas menjadi guru tarekat, lalu beliau mohon ma’af kepada gurunya untuk tidak dijadikan sebagai guru tarekat, karena masih banyak orang yang lebih alim dan lebih pantas dari pada dirinya. Alasan ini diterima oleh gurunya. Namun pada kesempatan yang lain, sang guru memintanya lagi untuk mengajarkan tarekat, tetapi TGH. Makmun tetap menyatakan diri tidak sanggup untuk hal itu. Begitulah permintaan sang guru serta jawaban sang murid sampai 39 kali. Akhirnya pada kesempatan yang ke 40, TGH. Siddiq sendiri datang menemui TGH. Makmun ke Karang Lebah Praya malam hari. TGH. Siddiq mengatakan : ”Saya ini sudah tua rasanya, hidup ini tidak akan lama lagi, untuk itu permintaan saya yang terakhir ini jangan sampai tidak diterima”. Barulah TGH. Makmun menyatakan kesiapannya sebagai guru tarekat. Penurus dari Tuan Guru Haji Muhammad Siddiq Karang Kelok Ampenan. Dan selang beberapa tahun kemudian meninggallah Tuan Guru Siddiq.

Pada waktu sebelum Tuan Guru Makmun mengajarkan tarekat sejak jaman penjajahan Belanda di Lombok, beliau selalu mengajarkan al-Qur’an setiap pagi sampai akhir hayatnya. Sehingga muridnya yang tinggal di asrama (mondok) pada waktu itu kurang lebih 250 orang.

Ma’arif sewaktu kecilnya tinggal bersama keluarga tercintanya di Karang Lebah kurang Sembilan tahun, oleh kakak beliau Haji Khalil dan beberapa murid ayah beliau menceritakan bahwa pada waktu Ma’arif masih bayi, setiap malam selalu ditemukan cahaya terang memenuhi kamar dalam rumah tempat tinggal beliau, terang bagaikan lampu besar yang menyala mengitari tubuhnya. Kejadian ini berlangsung selama satu tahun. Setelah itu selama satu tahun berikutnya (tahun kedua) gelap seperti biasa. Dan pada tahun ketiga muncul lagi, terang seperti pada tahun pertama sampai akhir tahun selama dua belas bulan. Setelah itu kembali seperti biasa. Kemudian hal ini dilaporkan kepada ayahndanya Tuan Guru Haji Makmun, jawaban beliau :”Diam-diam” pertanda beliau sudah mengetahui dan menyadari maknanya.

Disaat beliau (Ma’arif) berada di rumah, beliau sering diajak oleh ayahandanya pergi keluar kota dalam rangka menghadiri acara silaturahmi, tasyakkuran dan lain lain.
Pernah terjadi pada suatu hari, beliau diajak menghadiri acara pemakaman salah seorang jema’ah yang meninggal di desa Kembang Kuning Lombok Barat. Waktu itu ayahnya dijemput dengan mobil sedan, setelah ayahandanya duduk berdampingan dengan sopir, dan sambil menuggu anak murid yang mengaji al-Qur’an di santren atau mushalla. Dan pada saat mobil mau berangkat, terlintas di dalam hati beliau (Ma’arif) mengatakan “Sak mule yak paut jai ngiring Abah jak dengan sak gagah-gagah no” (seharusnya yang pantas menemani ayah adalah orang yang gagah-gagah itu bukan orang yang seperti ini). Tiba-tiba ayah beliau berkata, “Apa kata hatimu?” “Supaya saya ditemani orang-orang gagah?” Lantas beliau terdiam dan baru mengerti bahwa hal itu dinamakan khawas.

Setelah Ma’arif berusia Sembilan tahun, beliau diantar ke Sekarbela Lombok Barat, untuk mempelajari dasar-dasar ilmu agama Islam bersama kakak tertuanya Haji Abdul Hamid (wafat 1947 M). Pada waktu itu Sekarbela mashur disebut “Kampung Ahli Ilmu” yaitu kampung yang dipadati oleh orang-orang yang mengaji dan para ulama yang mengajar mengaji terutama dalam ilmu alat /nahwu syaraf (tata bahasa Arab). Sehingga sering kita jumpai di Sekarbela itu mencabut rumput di kebun ataupun di sawah bernyanyi denga lagu “ja’a zaidun, ja’a fi’il madhi hingga akhir.

Adapun guru-guru tempat beliau mulazamah/tetap mengaji waktu itu seperti Tuan Guru Haji Muhammad Ra’is bin Haji Muhammad Thaha Sekarbela (lahir tahun 1855 dan wafat tahun 1967 M) Beliau ini adalah sahabat karib Tuan Guru Haji Makmun Karang Lebah Praya. Mereka sering saling kunjung mengunjungi guna bersilaturahmi, dan sering kali pada waktu musim panen padi, beliau datang kepada Tuan Guru Haji Muhammad Ra’is sambil mengantarkan zakat fidyah yang dikumpulkan dari sebelumnya, yang jumlahnya terkadang tidak kurang dari satu ton. Dan pada saat Tuan Guru Haji Makmun ada halangan. Beliau perintahkan putranya Haji Khalil bersilaturahmi sambil mengantarkan zakat langsung kepada Tuan Guru Haji Muhammad Ra’is. Hal ini dilakukan untuk menempatkan rasa mahabbahnya/ cintanya yang sangat mendalam kepada TGH. Muhammad Ra’is. Seorang ulama yang sangat alim lagi shaleh.

Tuan Guru Haji Muhammad Ra’is adalah murid kesayangan dari Tuan Guru Haji Umar Kelayu Lombok Timur, ayah dari Tuan Guru Haji Badrul Islam. Begitu juga Ma’arif, beliau termasuk salah seorang murid kesayangan Tuan Guru Haji Muhammad Ra’is. Kaena kedekatannya dengan gurunya, maka beliau sering diajak pergi berduaan pada malam hari menghadiri acara selamatan atau acara silaturrahmi ke luar kampung Sukerbela. Seperti, ke gubuk/kampung Bagik Polak dengan mengendarai cidomo/dokar (pedati). Dan dalam perjalanan Tuan Guru Ra’is tidak pernah berbicara sepatah katapun. Melainkan hanya berzikir ingat kepada Allah semata. Kecuali setibanya di rumah, Tuan Guru hanya menyapa dengan kata, “Ma’arif, rani ante ulik mesak?” (Ma’arif beranikah kamu pulang sendiri?) “Inggih Tuan Guru” jawabnya dengan pelan dan hormat.

Sedangkan pengajian Tuan Guru yang dapat diikutinya adalah setiap malam yang dimulai setelah isya sampai jam 11 atau 12 malam. Karena begitu lamanya pengajian tidak jarang beliau ditinggalkan tidur sendiri oleh semua temannya sampai selesai pengajian, yang tentunya do’a penutup jarang mereka dapat ikuti. Karena keadaan Ma’arif dari sejak kecil sampai menjelang usia 9 tahun, kondisi kesehatannya sering terganggu, sakit-sakitan (proganan), sebab itulah beliau waktu itu banyak tidur dan cepat mengantuk.

Adapun guru yang kedua yaitu Tuan Guru Haji Thaha Persinggahan, sebelah timur Sekarbela. Pada awalnya beliau mengaji bersama puluhan temannya, di dalam pengajian Tuan Guru menggunakan metode tanya jawab, bila ada murid yang salah dalam menjawab Tuan Guru langsung berteriak dengan suara lantang :”Lebak lawuk praye atau merang lawuk Praye?” (Kampung Lebak selatan Praya ataukah Merang selatan Praya?). Dengan cacian seperti itu akhirnya semua temennya secara perlahan satu persatu menghilang tanpa khabar. Tinggallah Ma’arif seorang diri sebagai murid kesayangan. Sekalipun Ma’arif tinggal sendiri, suara lantang sang guru tidak pernah surut tetap seperti mengajar puluhan orang. Bila sang murid menjawab pertanyaan tuan Guru dengan benar maka dengan suara lantang berkata :”Babar muridku, sino muridku” (Begitu, terus muridku), pertanda beliau sangat senang dan gembira.

Dalam hal menghafal pelajaran, Ma’arif selalu dibimbing oleh Tuan Guru Haji Ibrahim Lomban Praya, karena pada waktu itu TGH Ibrahim lebih alim dan umurnya lebih tua dari padanya, juga karena tempat tinggalnya (pondok) sama-sama dalam satu rumah. Selesai shalat subuh, beliau ditasmi’ (memperdengarkan hapalan) kitab matan al-Ajrumiyah, matan al-Bina’, matan al Izzi, kepada TGH. Ibrahim. Ketika akan di tasmi’ matan alfiyah, Ma’arif keburu pamit untuk pindah mengaji ke Pancor Lombok Timur.

Pada akhirnya TGH. Ibrahim disamping sebagai gurunya juga sebagai sahabat karibnya dalam mendidik anak-anak madrasah selama lebih kurang 20 tahun. Di madrasah TGH. Ibrahim tidak pernah lepas mengajarkan ilmu nahwu dan Sharaf pada kelas-kelas terakhir. Alhamdulillah dengan keikhlasan dan ketekunannya, banyak murid madrasah menjadi alim dalam ilmu alat. TGH. Ibrahim sering berdo’a: “Mudah-mudahan aku mati dalam mengajar di madrasah”. Rupanya do’anya terkabulkan, tepatnya pada hari rabu setelah dzuhur yang mestinya jadwal mengajarnya di Darul Muhajirin adalah besok paginya (kamis) tetapi Allah berkehendak lain. TGH. Ibrahim dipanggil oleh Allah pada hari itu dengan tenang dan selamat, semoga amal ibadahnya diterima oleh Allahu Ta’ala. Amin.

Setelah kurang lebih 2 tahun Ma’arif belajar di Sekarbela beliau mohon pamit kepada guru-gurunya, guna melanjutkan ke Pancor Lombok Timur. Dari Sekarbela beliau langsung diantar ke Pancor oleh saudaranya Haji Abdul Hamid. Di Pancor beliau diserahkan kepada Tuan Guru Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid dan kepada TGH. Muhammad Badrul Islam. Oleh TGH. Muhammad Zainuddin, Ma’arif dijadikan murid kesayangan. Karena itu Ma’arif sering diajak bersilaturahmi ke luar kota. Dan pada hari kamis selalu diisi pelajaran khitabah/pidato yang langsung dipimpin oleh Tuan Guru sendiri. Dan waktu itu beliau beserta ustadz Haji Abdul Waris, Iwan Jurang Jaler, dilatih berpidato dengan menampilkan syair-syair melayu. Pernah pada suatu hari murid kesayanganya itu diutus ke Mataram dalam rangka menghadiri Muktamar Muhammadiyah atas nama wakil dari TGH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid. Sebagai bahan yang akan disampaikan, beliau disuruh menghapal dua lembar teks pidato yang disusun oleh Tuan Guru. Begitu hapal langsung berangkat ke Mataram, disanalah beliau menyampaikan pesan-pesan dari Tuan Guru. Setelah selesai para hadirin bertanya-tanya, siapakah gerangan anak kecil yang berpidato tadi? Seseorang menjawab, “itulah yang namanya Ma’arif murid Pancor asli Praya”.

Di dalam kesempatan yang lain beliau gunakan juga untuk pergi mengaji kepada TGH. Badrul Islam, rumah Tuan Guru terletak disebelah utara masjid dipinggir jalan raya. Pengajian Tuan Guru di masjid Pancor ini sekali dalam seminggu, biasanya pengajian dimulai sebelum zuhur dan setelah selesai dilanjutkan dengan acara minum teh atau kopi ditambah jajan. Semuanya disiapkan oleh tuan Guru. Jumlahnya hampir mencapai 80 hidangan/ sele/baki. Setelah selesai mengikuti pengajian Tuan Guru, Ma’arif dan teman-temannya yang sepondok bangkit bertugas sebagai penjamu tamu. Disaat yang lain, Ma’arif sering dicari oleh Tuan Guru untuk memijatnya menjelang Tuan Guru tersebut tidur.

Setelah kurang lebih 6 bulan Ma’arif belajar di Pancor, beliau berkirim surat kepada ayahandanya di Praya, memohon kepadanya agar dikirim belajar ke Mekkah al-Mukarramah, menyusul kakaknya TGH. Mukhsin yang sudah 2 tahun berada di Mekkah. Dan juga mumpung usianya masih belum baligh yang tentunya ongkos naik haji setengahnya biaya orang dewasa yaitu 40 ringgit. Dan jika akan berangkat nanti setelah dewasa/baligh tentu harus membayar 80 ringgit. Setelah suratnya diterima oleh ayahandanya, maka isi surat tersebut segera dimusyawarahkan bersama seluruh keluarga. Ternyata semua keluarga menyatakan setuju dan sangat mendukung. Akhirnya Ma’arif mohon pamit kepada Tuan Guru di Pancor dan pada tahun itu juga beliau berangkat ke Tanah Suci Mekkah al Mukarromah yang perjalanannya kurang lebih 6 bulan.

Setibanya di Mekkah beliau mendatarkan diri di madrasah Darul Ulum dan disamping beliau belajar di madrasah, beliau sempat juga belajar di luar madrasah secara khusus. Seperti kepada TGH. Mukhtar Kediri yang waktu pengajiannya setiap selesei shalat magrib dan pengajian tersebut tetap diikutinya sampai kurang lebih 5 tahun (selama beliau berada di Mekkah).

Setelah beberapa bulan berada di Mekkah beliau mendapat surat perintah dari ayahndanya TGH. Makmun, agar beliau bersama saudaranya H. Mukhsin yang sudah lebih 2 tahun berada di Mekkah, pergi menerima ijazah tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah kepada Syekh Idris Banten. Syekh Idris Banten adalah salah seorang ulama tasawuf yang ahli qira’ah dan hapal al-Qur’an dan termasuk penyebar tarekat Qadiriyyah Naqsyabandiyyah yang masuk ke Indonesia. Kepada syekh ini beliau belajar tajwid, membaca al-Qur’an, qira’ah Hafsh dan berbagai hal tentang tarekat dan seluk beluk tarekat. Setelah dilihat kecerdasan ketekunannya oleh Syekh Idris maka beliau diminta untuk datang belajar sendirian tanpa ditemani oleh siapapun. Dan di saat berdua itulah beliau menerima banyak ilmu pengetahuan. Sesekali beliau dijadikan katib (juru tulis) pribadi oleh syekh Idris. Diwaktu lain beliau diajak berbincang-bincang membicarakan beberapa hal penting. Semua perintah guru dilaksanakan dengan penuh keikhlasan. Banyak perintah guru yang di madrasah untuk mengahapal dan memuthala’ah kembali beberapa kitab maupun perintah guru yang di luar madarasah. Karena itulah pada 2 tahun pertama beliau di Mekkah, beliau mengurangi jam tidur menjadi 2 jam setiap hari dan malam. Namun karena kesehatannya sedikit terganggu maka pada 3 tahun berikutnya beliau tidur sehari semalam hanya sekedar 4 jam saja. Dan dari Syekh Idris Banten inilah juga beliau mendapat banyak ijazah, terutama dalam hal ilmu dan amalan tarekat dan beliau belajar kepada Syekh Idris kurang lebih 5 tahun.

Setelah kurang lebih 2 tahun beliau berada di Mekkah, barulah kemudian beliau juga mengaji kepada Syekh Muhammad Yasin bin Isa al-Fadani (Padang). Wafat dan dimakamkan di Mekkah tahun 1990 M. Salah seorang ulama hadits yang terkenal dengan gelar “Musnid ad-dunia” ahli sanad(mata rantai) hadis sedunia. Oleh Syekh Yasin beliau diajar sendiri di Masjidil Haram selama satu jam dari pukul sebelas sampai pukul dua belas malam. Begitulah halnya selam lebih kurang 3 tahun. Karena kedekatanya yang seperti itu, maka beliau dijadikan salah seorang murid kesayangan Syekh Yasin. Sehingga dengan penuh kerelaan dan keikhlasan Syekh Muhammad Yasin menumpahkan semua ilmunya baik yang secara langsung ataupun dengan ijazah khusus ataupun umum. Adapun yang ilmu-ilmu yang diterimanya itu semuanya serba kilat, tidak ada yang diucapkan dua kali, itupun dengan kecepatan tinggi. Namun bagi beliau (Ma’arif) tidak menjadi masalah yang jelas beliau selalu memperhatikan apa yang dikatakan oleh Syekh dan setelah pulang dari pengajian dan sesampainya di rumah, barulah ditulis semua keterangan yang diterimanya tadi tanpa ada yang tertinggal sepatah katapun.

Pada kesempatan lain, beliau juga belajar kepada beberapa guru. Antara lain kepada Syekh Muhammad Nuri Trenggano Malaysia, Syekh Abdul Karim Mandailing Medan, TGH. Ibrahim Kediri Lombok Barat, selama kurang lebih enam bulan dan di Mekkah juga beliau sangat akrab dengan TGH. Musthafa Kediri Lombok Barat. Karenanya TGH. Musthafa sering mengajaknya makan bersama keluarga di rumahnya, dan sering juga diajak bertamasya keluar kota, seperti ke Tha’if. Beliau juga sering bertemu dengan TGH. Abdul Hamid Kediri Lombok Barat, yang acapkali mengajaknya makan kerumahnya.

Kemudian pada tahun pertama setelah selesai mengerjakan ibadah haji beliau mengubah namanya dari MA’ARIF menjadi Haji MUHAMMAD NAJMUDDIN. Nama yang kedua inilah yang terkenal sampai sekarang. Pada tahun keempat dan kelima berada di Mekkah terjadilah perang dunia II, sehingga uang belanja sehari-hari tidak terkirim selama dua tahun. Meskipun penderitaan beliau pada waktu itu sudah hampir tidak tertahankan, namun Alhamdulillah kegiatan belajar di madrasah maupun di luar madrasah tidak pernah tertinggalkan, selalu ada bantuan Tuhan.

Setelah dirasakan cukup lima tahun beliau berada di Mekkah, beliaupun mohon diri, pamit kepada semua gurunya. Dengan izinnya maka berangkatlah beliau pulang tanpa membawa oleh-oleh barang berharga sedikitpun. Sambil menunggu kedatangan kapal laut MAI (Majlis A’la Indonesia) di Jeddah. Beliau menginap di Jeddah bersama 14 orang temannya dari Lombok yang akan berangkat juga, salah seorang di antaranya bernama Haji Lalu Mansyur dari Sakra Lombok Timur. Setibanya kapal, maka tidak lama kemudian para penumpang menaiki kapal, diantara mereka Kyai Haji Anwar Musaddad Jawa Barat.
Di dalam kapal, Haji Muhammad Najmuddin bergabung dengan Haji Mansur yang kebetulan pulang bersama istrinya dan seorang anaknya yang berumur dua tahun yang sedang sakit. Disini beliau membantu Haji Mansyur merawat dan menjaga putranya yang sedang sakit yang berada dalam ruang opname rumah sakit kapal. Beliau menyuapinya makan, memberinya minum, menyiapkan obat yang akan diminum dan selalu berada di sisinya tiap hari dan malam. Tetapi ajal tidak dapat ditolak. Akhirnya sang anak meninggal dunia dalam kapal di tengah perjalanan menuju Indonesia.

Pada saat Haji Mansur masih dirundung kesedihan itu, beliau dihadiahkan olehnya selembar kain sarung yang sudah dipakainya (setengah baru) sebagai ucapan rasa terima kasihnya atas bantuan yang diberikan kepadanya. Lantas sarung itu diambilnya kemudian langsung dipakainya setelah membuang lebih dahulu sarungnya yang tidak mungkin dapat dipakai lagi. Setelah 40 hari berada di dalam kapal sampailah beliau di pelabuhan Betawi atau Jakarta. Dan di Betawi kapal istirahat kurang lebih 15 hari. Setelah itu kapal diberangkatkan menuju pelabuhan Ampenan Lombok. Setelah sampai di pelabuhan Ampenan waktu magrib. Semua penumpang kapal segera turun dengan disambut oleh keluarga masing-masing, kecuali beliau sendiri. Maka tinggallah beliau seorang diri, tanpa ada seorangpun yang menyambutnya. Dalam perasaan sedih seperti itu, perlahan lahan beliau pergi meninggalkan pelabuhan Ampenan dengan mengendarai cidomo (andong/pedati) menuju arah timur sambil berpikir “kampung mana yang harus dituju?” maka terlintas dalam benak beliau kampung Karang Kelok adalah kampong yang pernah dikunjunginya 2 kali, sewaktu beliau belajar atau mondok di Sekarbela. Akhirnya beliau memutuskan untuk pergi ke Karang Kelok malam itu juga, sekalipun cuaca waktu itu agak gelap dan sedikit gerimis. Setibanya di Karang Kelok beliau diturunkan dari cidomo lalu berteduh di bawah pepohonan bambu dipinggir sungai sambil menunggu orang lewat untuk tempat bertanya. Tidak lama kemudian lewatlah seorang pengendara sepeda kepadanya beliau bertanya, ‘Dimanakah letak masjid Karang Kelok itu?’ si pengendara sepeda balik bertanya, ‘Elek embe side?’ (Darimanakah anda ini?) , ‘Saya datang dari Mekkah’ jawabnya polos. ‘oh’, dari kapal yang bersandar tadi?’ tanyanya lagi. ‘Ya’ jawab beliau. Lalu beliau diantar langsung ke masjid Karang Kelok oleh si pengendara sepeda.

Setibanya di Karang Kelok kurang lebih pukul 10 malam, beliau langsung masuk ke dalam masjid. Waktu itu jama’ah masjid sedang mengadakan acara serakalan (membaca barzanji), setelah selesai acara para hadirin saling bertanya, siapakah pemuda baru ini?. Salah seorang dari mereka memberanikan diri bertanya langsung pada beliau, ‘Siapakah anda ini dan darimana asalmu?’ ‘Dari Praya’ jawabnya. ‘Apakah rumahmu tidak berdekatan dengan rumah TGH. Makmun?’ Tanya mereka lagi. ‘Dekat, dekatnya itu sudah’ jawabnya. ‘Bukankah anda yang bernama Ma’arif?’, karena dalam keadaan terdesak dengan jujur menjawab :’ya, saya Ma’arif’, lantas semua jama’ah tercengang keheranan, dan baru mereka sadar bahwa Ma’arif baru datang dari Mekkah. Maka dengan tergopoh-gopoh beliau dihidangkan makanan istimewa, pertanda bahwa warga Karang Kelok ikut bergembira dan bersyukur atas kehadiran beliau yang baru saja datang dari Mekkah.

Kemudian esok harinya beliau diantar pulang ke Karang Lebah Praya. Setibanya di karang Lebah beliau disambut oleh keluarga dengan perasaan terharu serta bingung, sebab 2 hari sebelumnya mereka pernah menjemputnya ke pelabuhan Ampenan, namun kapal yang ditunggu tidak kunjung tiba. Akhirnya mereka sepakat untuk pulang sambil menunggu khabar kepastian kapal yang datang berikutnya.

Setibanya dari Mekkah, beberapa bulan kemudian beliau pergi mengaji kepada TGH. Musthafa Kediri Lombok Barat, kepadanya beliau mengaji kurang lebih selama 3 bulan. Disamping itu beliau mohon izin kepada ayahndanya untuk mengaji lagi kepada TGH. Muhammad Zainuddin Pancor Lombok Timur. Namun ayahndanya menjawab :’Keberkatan ilmu itu tidak saja datang sewaktu kita bersama guru, namun bisa saja datang setelah kita berpisah, yakni berada jauh dari tempat sang guru. Karena itu tetaplah kamu di sini, bimbinglah anak-anak yang sudah banyak ini”. Mendengar jawaban ayahndanya itu, maka beliau memutuskan diri untuk tinggal bersama keluarga di Karang Lebah Praya. Mulailah beliau melanjutkan perjuangan yang telah dirintis oleh saudara tuanya TGH. Abdul Hamid beserta ayahandanya TGH. Makmun bin Abdul Wahid. Pada awal mulanya beliau memberikan pengajian di rumah kediamannya, kemudian pengikut pengajian semakin lama semakin banyak, sampai tidak dapat tertampung di satu rumah. Lalu beliau meminjam rumah keluarga sebagai tambahan tempat pengajian. Melihat keadaan seperti itu, akhirnya beliau berhasrat membangun sebuah gedung madrasah.

Alhamdulillah dengan izin Allah tepatnya pada tahun 1943 M berdirilah dengan resmi sebuah gedung madrasah yang bernama ‘Nurul Yaqin’ (cahaya keyakinan), satu-satunya madrasah yang terdapat di Lombok Tengah waktu itu. Beberapa bulan kemudian, ketika masih dalam penjajahan Jepang, datanglah seseorang kepada beliau mengkhabarkan bahwa besok akan datang pimpinan pasukan Jepang, yaitu Kapring Kang (bupati dalam bahasa Jepang) yang bermarkas di Praya, guna meninjau keadaan madrasah serta akan menginstruksikan kepada semua guru madrasah agar ikut dalam latihan Tai Sho/ olah raga khas Jepang yang secara langsung dilatih oleh pihak Jepang. Dengan adanya berita itu TGH. Muhammad Najmuddin Makmun merasakan sedikit kecemasan serta khawatir bila ada maksud jahat dibalik semua itu. Lalu Beliau menghadap kepada ayahandanya guna memohon doa agar pimpinan Jepang tidak jadi datang ke madrasah. Maka dengan ikhlas Beliau berdoa kepada Allah beberapa saat. Tepat pada jam yang telah ditentukan pimpinan Jepang yang memakai tongkat itu berjalan melalui depan Madrasah Nurul Yakin tanpa mau berhenti. Ia langsung saja berjalan menuju arah timur sampai di Pabrik kampung Surabaya kurang lebih setengah kilometer dari Madrasah. Disana dia bertanya:”Mana gubuk (kampung) Karangrebah?” dijawab oleh orang: ”Sebelah timur jembatan tuan besar”. “Oh, ya” katanya. Lalu Jepang itu kembali langsung ke Markasnya tidak jadi datang hari itu. “Besok hari saya akan datang lagi” katanya. Kemudian pada esoknya sebelum Jepang itu datang Beliau menghadap lagi kepada Ayahandanya guna memohon doa lagi agar Jepang itu tidak jadi datang. Lalu dengan penuh keyakinan beliau berdoa kepada Allah selama beberapa saat. Betul juga pada jam yang sudah ditentukan pimpinan Jepang tersebut datang berjalan kaki dari barat ke timur. Tetapi anehnya dia tidak berhenti di depan Madrasah, malah dia langsung saja jalan ke timur. Sesampainya di pabrik kampung Surabaya barulah dia bertanya: ”Mana nama Karangrebah?” “Sebelah timur jambatan besar Tuan Besar” jawab seseorang. Akhirnya dia kembali pulang ke markasnya tanpa mau berhenti di madrasah yang dicarinya. Dengan memperhatikan kejadian seperti itu barulah beliau merasa lega bersyukur kepada Allah yang dengan berkat doa ayahandanya maka beliau beserta guru-guru madrasah terbebas dari keinginan jahat pimpinan Jepang. Alhamdulillah semuanya telah diatur oleh Allah Rabbul alamin.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1972 beliau berangkat lagi menunaikan ibadah haji. Kali ini beliau bertemu lagi dengan gurunya Syeikh Muhammad Yasin bin Isa al-Fadani. Di saat itu beliau diijazahkan lagi beberapa ilmu dan kitab. Hal ini disebabkan kedekatan dengan gurunya selalu terjalin sekalipun berbeda tempat tinggal, karena selalu diikat dengan jalinan surat menyurat. “al-murasalah nishful muwajahah” (bersurat adalah setengah pertemuan), demikian kata nasihat yang sering diucapkan.

Dalam kesempatan itu juga beliau pergi bershilaturrahmi dengan Syeikh Muhammad Hasan al-Masysyath bersama TGH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid Pancor dan TGH. Afifuddin Adnan, TGH. Yusuf, dan lain-lain. Ketika itu beliau diijazahkan beberapa kitab dan amalan tharikat Naqsyabandiyah, serta diperintah agar tetap mengenakan pakaian jubah. Hal ini karena TGH. Muhammad Najmuddin biasanya hanya memakai jubah sekali dalam seminggu pada saat shalat Jum’at saja. Sedangkan untuk memakai kurung dilapisi jubah itu tidak pernah dipakainya sejak jaman Jepang sampai saat ini kecuali, kecuali sejak dua tahun kemarin, Beliau setiap saat tetap memakai kurung dan jubah. Hal itu berdasarkan perintah yang diterima dari Nabi Adam as., Nabi Nuh as. Dan lain-lainnya. Dimana Beliau semua berkata:”Bila anda tetap memakai kurung kemudian jubah maka kami akan tetap mendampingimu setiap saat”. Oleh sebab itu sekarang ini akan selalu kita temukan beliau dalam keadaan menggunakan pakaian kurung kemudian jubah, itu semata-mata untuk memperoleh berkah serta terhindar dari terkena kuwalat (tualah manuh).

Sekembalinya dari Tanah Suci, beliau langsung pulang menuju rumah barunya di Pondok Pesantren Darul Muhajirin, satu km arah barat Karang Lebah. Pondok Pesantren ini berdiri di Atas tanah seluas kurang lebih 3,5 ha. Tanah ini merupakan hadiah dari pemerintah daerah Lombok Tengah yang pada waktu itu adalah bapak Drs. H.Lalu Sri Gede. Di atas tanah ini dibangun beberapa buah gedung madrasah yang terlihat sampai sekarang. Namun sebelum gedung baru ini ditempati, kegiatan belajar mengajar di tampung di kompleks madrsah Ibtida’iyah Tengari pimpinan ustadz H. Muhammad Syafi’i. Kurang lebih 350 m arah timur Muhajirin. Kegiatan ini berlangsung kurang lebih 2 tahun.

Pondok Pesantren Darul Muhajirin adalah kelanjutan dari Madrasah Nurul Yaqin Karang Lebah. Karena kondisi waktu itu tidak memungkinkan untuk mengembangkan madrasah Nurul Yakin secara lebih leluasa. Maka beliau memutuskan diri untuk pindah ke Pondok Pesantren Darul Muhajirin. Di Pondok inilah beliau berkhidmat bersama semua keluarga dan semua jamaahnya sampai sekarang ini.

Sampai disini dahulu. InsyaAllah akan disambung lagi pada kesempatan lainnya. Walhamdulillahi Rabbil alamin.
(Dikutip dari Kitab Fawaid al-Hifdzi karya TGH. Muhammad Najmuddin Makmun. Cet.3. Maktabah Bariklana, 2008)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar